Saturday, April 26, 2008

Pindah ke Gang Mahali…..weks!

Berhubung sesuatu dan lain hal.
1. Pondok Ripi itu mahal pisan, ngambil juga karena terpaksa dah mepet. Bayangin 550ribu sebulan kudu bayar 6 bulan dimuka. Biar ada aa Aip juga tapi kan si aa dah punya Gaby. Malu aja klo kudu nyusahin mana ngeberatin teh Wiena.
2. Di Pondok Ripi apa2 kudu bayar. Nyuci baju aja kudu make usaha laundri nya penjaga pondok,
3. Tambahan biaya, kipas angin 25ribu, televisi 25ribu, komputer 35ribu, magicjar 25ribu, dispenser 25ribu.
4. Pondok Ripi kesannya bebas buat kumpul2 putra sama putri.
5. Asal mau nyapu teras aja kudu make jilbab, karena banyak mata putra. 

Atas dasar pertimbangan tersebut, maka pondokan yang posisinya paling dekat ke kampus itu terpaksa kutinggalkan, lalu hijrah ke pondokan di Gang Mahali meski lebih jauh karena posisinya di belakang Apartemen Margonda. Derngan berjalan kaki, ada tambahan waktu tempuh selama 5 menitan.
Pertimbangannya.
1. Biaya bulanan 270ribu.
2. Pondokan hanya untuk putri.
3. Setiap hari dicucikan satu setel baju gratis.
4. Sudah ada pesawat televisi.
5. Tersediakan air panas buat bikin minuman.
6. Tambahan biaya 30ribu buat komputer, Hal2 yang lain belum ditanyakan tuh.

Makanya sejak 5 Februari 2008 sudah booking tempat di Mahali, sedang waktuku di Pondok Ripi baru akan berakhir tgl 13. Makanya waktu yang 8 hari itu kugunakan buat pindahan dengan bantuan sohib2. Sayangnya selama di Gang Mahali, belum pernah ada keluarga yang nengokin, karena tamu cowok gak boleh nginap. Sedih deh…Hiks…Gituh lho.

Posted by aa.eman in 13:36:11 | Permalink | Comments (1) »

Monday, January 7, 2008

Revolusi Indonesia, Perjuangan Diplomasi atau Konfrontasi?

Sukarno, atas nama bangsa Indonesia, membacakan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Sebuah tonggak lahirnya Negara baru, terbebasnya bangsa dari tindasan bangsa asing, dan lunturnya rasialisme.

            Kedatangan Sekutu yang berniat melucuti senjata tentara Jepang yang ternyata ditunggangi oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration), membuat Kemerdekaan Indonesia terancam. Pemerintah Belanda tidak mengakui kemerdekaan republik dan berniat menanamkan kembali kekuasaannya atas Indonesia.

            Zaman Revolusi Indonesia pun dimulai, perjuangan-perjuangan dilakukan lewat jalur perundingan maupun tindakan-tindakan revolusioner berupa konfrontasi langsung. Pihak-pihak yang mendukung jalur diplomasi seperti Sutan Sjahrir beranggapan bahwa Diplomasi adalah jalan keluar yang paling realistis agar Republik di akui secara de facto oleh dunia internasional khususnya pengakuan kedaulatan dari Belanda. Sementara pihak lainnya seperti Jenderal Sudirman, Tan Malaka beranggapan bahwa berunding dengan Pemerintahan Belanda tidak ada gunanya dan hanya akan merugikan Republik saja, tuntutan Merdeka 100% serta slogan-slogan “merdeka atau mati” menjadi tujuan  perjuangan revolusioner.

            Jalur Diplomasi sebagai langkah awal menghadapi Belanda. Hal ini perlu dilakukan karena pada saat itu, Belanda adalah pihak yang menang Perang Dunia II, dan Indonesia sama sekali belum dikenal di dunia internasional, selain itu proklamasi kemerdekaan pun belum banyak diketahui orang. Pengakuan dunia internasional menjadi penting sebagai modal awal menghadapi kolonialisme Belanda. Pada akhirnya jalur Diplomasi memang mengalami kegagalan. Perjanjian Linggarjati merugikan pihak Indonesia, selain itu pihak Belanda tidak mematuhi isi perjanjian dengan melakukan Agresi Militer I, pun dengan perjanjian Renville yang mulai melibatkan pihak ketiga mengalami kegagalan akibat ketidak patuhan Belanda terhadap isi perjanjian. Kegagalan demi kegagalan yang di telan oleh pihak yang berdiplomasi menimbulkan banyak kecaman dari dalam negeri khususnya dari mereka yang menuntut gerakan-gerakan revolusioner dan konfrontasi karena kecewa atas hasil-hasil yang dicapai selama ini. Yang menjadi poin penting sebenarnya adalah munculnya simpati dari dunia internasional terhadap perjuangan bangsa Indonesia, pengakuan kedaulatan dari kebanyakan Negara-negara di Afrika maupun Asia. Resolusi PBB serta kecaman terhadap agresi militer Belanda mendorong segera di bentuknya Republik Indonesia Serikat dan secara De Facto Belanda pun mengakui Kemerdekaan Indonesia pada 1949.

            Konfrontasi merupakan jalan lain bagi perjuangan republik. Semenjak kegagalan perjuangan diplomasi, kelompok-kelompok radikal yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan pimpinan Tan Malaka telah menghimpun kekuatan dari berbagai kelompok seperti partai, laskar, dan, badan-badan yang dipersiapkan untuk melakukan perjuangan revolusioner bersenjata. Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Belanda lewat Agresi Militer I dan II menunjukan ketidakseriusan pihak Belanda atas tuntutan pengakuan kedaulatan Indonesia, yang memang sejak awal telah disadari oleh Tan Malaka dan kelompoknya.

            Sejak kegagalan diplomasi, haluan Belanda diarahkan kepada perang, hal ini terjadi karena perasaan frustasi atas kegagalannya menguasai republic. Serangan militer pada tengah malam tanggal 18 Desember merupakan sikap yang diambil Belanda terhadap kesepakatan gencatan senjata.

            Sementara di Yogjakarta Soekarno-Hatta tetap bertahan dengan diplomasi hingga ditangkap oleh pasukan belanda dan Jenderal Sudirman tetap meneruskan gerilya.

            Dari segi persamaan antara orang elite kota dan rakyat di pedesaan, zaman gerilya merupakan titik puncak seluruh proses revolusi.

            Tanpa keberanian kaum muda dalam menghadapi senjata barat yang memungkinkan terjadinya anarki, para diplomat akan secara sia-sia berseru-seru di padang pasir. Namun suatu perbandingan dengan Vietnam dan Malaya, dimana keberanian serupa diperlihatkan tetapi lama kemerdekaan tidak diberikan, menunjukan keunggulan nyata diplomasi Indonesia. Diplomasi merupakan kartu truf yang penting untuk memperoleh dukungan Internasional yang membuka jalan menuju kemenangan pada tahun 1949.

Posted by aa.eman in 07:33:23 | Permalink | Comments (1) »

RIS dalam pertahanan dan keamanan

Setelah selesai perang, jumlah pasukan harus dikurangi karena keuangan Negara tidak mendukungnya. Mereka perlu mendapat penampungan bila diadakan rasionalisasi. Untuk itu pemerintah membuka kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya dalam pusat-pusat pelatihan yang memberikan pendidikan keahlian untuk memberi mereka kesempatan menempuh karir sipil professional. Juga dilakukan usaha transmigrasi dengan wadah Corps Tjadangan Nasional (CTN). Walaupun demikian masalah ini belum dapat diselesaikan.

            Dalam pembentukan APRIS (Angkatan Perang Republic Indonesia Serikat) intinya diambil dari TNI, sedangkan lainnya diambil dari kalangan bekas anggota Angkatan Perang Belanda.

            Personil bekas Angkatan Perang Belanda yang akan dilebur kedalam APRIS meliputi sekitar 33.000 orang dengan 30 orang perwira. Pada angkatan udara diserahkan 10.000 orang. Pembentukan APRIS sebagai salah satu keputusan KMB dengan TNI sebagai intinya ternyata telah menimbulkan masalah psikologis. Disatu pihak TNI berkeberatan untuk bekerjasama dengan bekas musuhnya. Sebaliknya dari pihak KNIL terdapat pula tuntutan untuk ditetapkan sebagai aparat Negara bagian dan menentang masuknya TNI kedalam Negara bagian tersebut. Gejala ini terlihat di Bandung berupa gerakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) yang mengirimkan ultimatum kepada pemerintah RIS dan Negara Pasundan serta menuntut untuk diakui sebagai Tentara Pasundan dan menolak dibubarkannya Negara tersebut. Di Kalimantan Barat Sultan Hamid II menentang masuknya TNI serta menolak untuk mengakui menteri pertahanan RIS dan menyatakan dialah yang berkuasa di daerah tersebut. Di Makasar muncul gerakan Andi Aziz dan di Ambon gerakan Republic Maluku Selatan (RMS). Keadaan tersebut sengaja diwariskan oleh kekuatan reaksioner Belanda dengan tujuan untuk mempertahankan kepentingan dan mengacaukan RIS, sehingga di dunia Internasional akan timbul citra bahwa RIS tidak mampu memelihara kamanan dan ketertiban di wilayah kekuasaannya. Selain harus mengatasi instabilitas nasional sebagai akibat bom-bom waktu yang sengaja ditinggalkan oleh pihak kolonialis, maka pemerintah juga tetap harus menghadapi pemberontakan DI/TII.

sumber : Sejarah Nasional Indonesia VI

Posted by aa.eman in 07:31:25 | Permalink | Comments (1) »

Faktor yang menyebabkan seringnya terjadi pergantian kabinet pada masa demokrasi liberal

Pada tahun 1950, setelah unitary dari Republik Indonesia Serikat (RIS) menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Indonesia mulai menganut sistem Demokrasi Liberal dimana dalam sistem ini pemerintahan berbentuk parlementer sehingga perdana menteri langsung bertanggung jawab kepada parlemen (DPR) yang terdiri dari kekuatan-kekuatan partai. Anggota DPR berjumlah 232 orang yang terdiri dari Masyumi (49 kursi), PNI (36 kursi), PSI (17 kursi), PKI (13 kursi), Partai Katholik (9 kursi), Partai Kristen (5 kursi), dan Murba (4 kursi), sedangkan sisa kursi dibagikan kepada partai-partai atau perorangan, yang tak satupun dari mereka mendapat lebih dari 17 kursi. Ini merupakan suatu struktur yang tidak menopang suatu pemerintahan-pemerintahan yang kuat, tetapi umumnya diyakini bahwa struktur kepartaian tersebut akan disederhanakan apabila pemilihan umum dilaksanakan.

Selama kurun waktu 1950-1959 sering kali terjadi pergantian kabinet yang menyebabkan instabilitas politik. Parlemen mudah mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap kabinet sehingga koalisi partai yang ada di kabinet menarik diri dan kabinet pun jatuh. Sementara Sukarno selaku Presiden tidak memiliki kekuasaan secara riil kecuali menunjuk para formatur untuk membentuk kabinet-kabinet baru,  suatu tugas yang sering kali melibatkan negosiasi-negosiasi yang rumit.

Kabinet Koalisi yang diharapkan dapat memperkuat posisi kabinet dan dapat didukung penuh oleh partai-partai di parlemen ternyata tidak mengurangi panasnya persaingan perebutan kekuasaan antar elite politik.

            Semenjak kabinet Natsir, para formatur berusaha untuk melakukan koalisi dengan partai besar. Dalam hal ini, Masjumi dan PNI. Mereka sadar betul bahwa sistem kabinet parlementer sangat bergantung pada basis dukungan di parlemen.

            Penyebab kabinet mengalami jatuh bangun pada masa demokrasi liberal adalah akibat kebijkaan-kebijakan yang dalam pandangan parlemen tidak menguntungkan Indonesia ataupun dianggap tidak mampu meredam pemberontakan-pemberontakan di daerah. Sementara keberlangsungan pemerintah sangat ditentukan oleh dukungan di parlemen.

Posted by aa.eman in 07:28:57 | Permalink | Comments (1) »

Sunday, January 6, 2008

Re: tiba-tiba pengen nge junk

To:
Adelia Bulan
Date: 01/6/2008 9:28 pm
Subject: Re: tiba-tiba pengen nge junk (iseng-iseng tidak berhadiah)

Message:
Huh belagu luh. Klo gitu ketauan juga nih ternyata pacarnya si Indosat. Hehehe… Del Adel….Jelek abiz luh tau gak!!!

Adelia Bulan wrote:
++ ABOUT YESTERDAY ++

1. Semalam ngapain aja?
cabut dari kosan ke Kebon kacang

2. Mood kamu?
yah begitulah, kurang baik

3. Sesuatu yang membuat kamu kecewa?
Dia, yang nggak bisa jaga mulut

4. Hal yang kamu terpaksa katakan?
hahahhahahha (kepaksa ketawa maksudnya)

5. Orang terakhir yang ngomong sama
kamu di telpon kemaren?
senior gw…

6. Ngomongin apa?
ada

7. Orang terakhir yang kamu sms
kemarin?
ga punya pulsa

8. SMS apa?
-_-” krik..krik..

9. apa yang kemarin membuat kamu
tertawa lepas?
nggak ada

10. Jadi intinya kemaren menyenangkan?
hmmm… au ah, kalo mati lampunya gelap

++ ABOUT TODAY ++

1. Orang pertama yang sms kamu tadi
pagi?
Indosat

2. Sms pertama kamu isinya apa?
promo i-smswarna pake wap browser gprs
bla..bla..

3. Kamu seneng ga hari ini?
deg-degan, ketar-ketir… seneng.. (hay
hay nona rayi, jangan lupa ya janjimu
hohoho)

4. Ada rencana hari ini?
pengennya ke museum ke rumah ray

5 . Hari ini kamu nangis ga?
hahahahah

6 . Siapa orang yang ngebuat kamu fall
in love hari ini?
yaelah, si A (A-da deh hahahah)

7. Sesuatu yang membuat kamu berpikir
hari ini?
nerusin tulisan

8. Makanan yang kamu makan hari ini?
ketoprak doank

9. Kamu pengen ngapain hari ini?
jalan ke rumah si Ray Belammy, trus baca
komik sepuas hati hahaha

10. Satu kalimat buat hari ini:
gelombang nestapa..gelombang nestapa..
gelombang nestapa ku harap sirnaaa..

++ ABOUT TOMORROW AND DAYS AFTER
TOMORROW ++

1. Ada rencana apa buat besok?
baca buku perpus

2. Kalo buat minggu depan?
tgl. 16 balikin buku ke perpus, pulang
kampung…

3. Kalo 1 bulan ke depan?
pindah kosan ke Aisha

4. Ada ga yang kayaknya bikin kamu
sedih bulan depan?
meneketehe, mudah2an aja ga ada.

5. Sesuatu yang kamu harapkan?
semoga angkatan gw makin kompak, semoga
gath aptx jadi.

6. Rencana ke luar negeri? Kemana?
luar negeri? gw ke masa lampau hahahaha,,,

7. Ada seseorang yang kamu pengen sama-
sama terus buat minggu-minggu k depan?
sahabat2 gw…..

8. Sesuatu yang membuat kamu
bersemangat buat minggu depan?
pinjem buku lagi ke UPT, pulang kampung.

9 . Yang membuat kamu males?
mood males

10. 1 goal buat bulan depan?
mulai berguru sama orang2
melankolis-kolerik….

sekian junk hari ini

Posted by aa.eman in 14:42:01 | Permalink | Comments (2)

Sunday, December 16, 2007

Blue diamond

Posted by aa.eman in 16:31:31 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 15, 2007

Kreativitas Sejarah UI 2007

Gileh, mani gareulis euy batur na si Adel. No Comment aaaaahhhhh….

Posted by aa.eman in 12:38:17 | Permalink | Comments (1) »

Friday, December 14, 2007

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.

Most Popular Outgoing Link by MyBlogLog Click Tagging.
Ranking of 80 blogs, on date Dec 14th, 2007. Hours 23.20
(vide URL http://renungansekilas.blogspot.com/)

Pohaci, Most. PondokRipi, 2nd. Risanti, 3rd.

Santa’s Link Love: Santa’s Link Love… Update Three
Technorati Profile

Posted by aa.eman in 16:05:15 | Permalink | Comments (2)

Thursday, December 13, 2007

Kliping dari Youtube

application/x-shockwave-flash|http://www.youtube.com/v/9pK6rXuWaLo&rel=1|425|355|movie|http://www.youtube.com/v/9pK6rXuWaLo&rel=1|wmode|transparent|
Posted by aa.eman in 15:54:18 | Permalink | No Comments »

Saturday, November 24, 2007

PERJANJIAN EKSTRADISI :Presentation Draft PBL 5

PERJANJIAN EKSTRADISI
INDONESIA – SINGAPURA
JUM’AT 23 NOVEMBER 2007

HOME GROUP 3
Presentator : Adelia Wulandari
Anggota Kelompok: Agasta, Agnes, Alicia, Faiq, Rizky, Yessy.

Latar Belakang :
Pemerintah Indonesia dan Singapura akhirnya menandatangani perjanjian ekstradisi di Bali pada 27 April 2007. perjanjian ini menyangkut 31 butir tindak pidana korupsi, pencucian uang dan sejumlah kejahatan transnasional lain. Dalam agenda pemberantasan korupsi, adanya perjanjian ekstradisi dengan Singapura patut mendapat apresiasi karena hal itu sudah di perjuangkan sejak tahun 1979 lalu.
Lalu mengapa perjanjanjian ekstradisi belum juga di ratifikasi?
Masalahnya adalah :
1. Konsepsi korupsi yang berbeda di kedua negara. Singapura berpendapat korupsi adalah penyuapan. Sedangkan bagi Indonesia korupsi adalah suap yang melawan hukum, membawa keuntungan untuk pribadi dan ada unsur keuntungan negara. Selain itu sistem hukum yang dianut oleh Singapura adalah Anglo Saxon dan sistem hukum yang dianut oleh Indonesia adalah Kontiental.
2. Informasi mengenai isi perjanjian ekstradisi bersifat tertutup, sehingga dikhawatirkan merugikan pihak Indonesia. Hanya beberapa pihak saja yang mengetahui keseluruhan isi perjanjian ekstradisi.
3. Perjanjian ekstradisi dipararelkan dengan perjanjian pertahanan yaitu defence cooperation agreement. Yang pasal-pasalnya merugikan Indonesia.
4. Perjanjian ekstradisi hanya mengatur kembalinya pelaku kejahatan (korupsi), bukan asset yang dibawa lari.
Isu – isu terkait :
1. Hubungan Internasional
Setelah sebuah negara mendeklarasikan kemerdekaanya dan melakukan pembangunan dalam negeri, tugas kedua adalah menciptakan hubungan luar negeri dengan negara tetangganya.
Hubungan dan politik luar negeri merupakan sebuah proses yang sangat ditentukan oleh ideologi yang mencakup kepentingan nasional suatu negara serta faktor-faktor yang meliputi unsur kekuatan dan kekuasaan seperti faktor ekonomi, militer, kependudukan, dan geografi.
Hubungan internasional adalah interaksi aktor-aktor yang tindakan dan kondisinya memiliki konsekuensi penting terhadap aktor lain diluar yurisdiksi efektif unit politiknya. Dari definisi tersebut dapat terkaji bahwa negara angsa dapat dipandang sebagai pelaku utama dari hubungan internasional.
2. Pasang surut hubungan antar bangsa
Perbedaan kepentingan antara dua bangsa dapat menyebabkan konflik. Konflik dapat berkembang menjadi besar dan apabila menggunakan senjata maka dinamakan perang bersenjata. Gambaran mengenai hubungan antara dua bangsa dapat dijelaskan sebagai berikut. Pertama, integrasi (kerjasama) dapat terjadi karena kepentingan sejalan. Kedua, konflik (pertentangan) dapat terjadi karena kepentingannya bertentangan. Beberapa cara untuk menyelesaikan suatu konflik antara dua bangsa, yaitu perang bersenjata, penekanan terhadap negara lawan, misal mengadakan latihan militer di daerah perbatasan, dan akomodasi yaitu kedua bangsa saling menghormati.
3. Geopolitik dan Geostrategi.
Geopolitik merupakan wawasan nasional bangsa berupa doktrin wawasan nusantara yang secara umum didefinisikan sebagai cara pandang dan sikap bangsa Indonesia tentang dirinya yang bhineka, dan lingkungan geografinya yang berwujud negara kepulauan berdasarkan pancasila dan UUD’45. tujuannya mewujudkan persatuan dan kesatuan segenap aspek kehidupan nasional dan turut serta menciptakan dalam ketertiban dan perdamaian dunia.
Geostrategi adalah geopolitik dalam pelaksanaan yaitu kebijaksanaan pelaksanaan dalam menentukan tujuan, sarana-sarana, serta cara penggunaan sarana-sarana tersebut guna mencapai tujuan nasional dengan memanfaatkan konstelasi geografi suatu negara.
Pengembangan geopolitik dan geostrategi dalam pandangan Indonesia:
1. pengertian atau paham yang dianut adalah paham possibilities.
2. Bangsa Indonesia tidak menganut paham ekspansionis, bagi bangsa Indonesia ruang hidup suatu bangsa terbatas pada wilayah negaranya yang diakui secara internasional.
3. Setiap negara, besar atau kecil sama derajatanya dan sama-sama memiliki hak untuk hidup.
4. Setiap bangsa sama-sama berkewajiban menegakkan perdamaian dunia (bukan hanya negara besar saja yang berkewajiban menegakkan perdamaian dunia)
5. Kekuatan suatu bangsa atau negara, baik politik maupun mental terutama ditujukan untuk mempertahankan eksistensi dan integrasi nasionalnya, serta untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya, bukan untuk meguasai bangsa lain, lebih-lebih bukan untuk menguasai dunia.

SOLUSI

A. Solusi Jangka Pendek
1. DPR agar tidak segera meratifikasi perjanjian ekstradisi serta DCA secara tandem. DCA jelas-jelas merugikan Indonesia, harus ada pengkajian ulang terhadap pasal-pasal yang tercantum di dalam kesepakatan ini secara terperinci dan jelas.
2. Keterbukaan pemerintah terhadap publik.
3. Jika pemerintah hanya ingin mengejar uang, perjanjian ekstradisi tidak menjadi prioritas. Uang dapat dikejar dengan cara pemerintah meminta DPR segera meratifikasi perjanjian timbal balik bantuan ASEAN (ASEAN MLA).

B. Solusi Jangka Panjang
1. Memperbaiki Pelaksanaan hukum di Indonesia serta pola penegakan hukum.
2. Memperbaiki Pelaksanaan Keimigrasian di Indonesia
3. Mengefektifkan pelaksanaan undang-undang anti korupsi di dalam negeri.

Posted by aa.eman in 07:05:29 | Permalink | Comments (2)